Jumat, 04 Januari 2013

Habibie & Ainun

Film Habibie dan Ainun ini diangkat dari Buku Best Seller Habibie & Ainun yang ditulis sendiri oleh beliau. Diperankan oleh Reza Rahardian (Habibie) dan Bunga Citra Lestari (Ainun). Film ini menceritakan awal mula pertemanan Rudi Habibie dan Ainun sejak dari bangku sekolah hingga Ainun menutup mata untuk menghadap Sang Pencipta Allah SWT.

Berikut Sinopsis singkatnya :
Rudi Habibie dan Ainun merupakan murid yang sangat cerdas disekolahnya, dan suatu ketika bapak guru mereka mempertemukan Habibie dan Ainun dan menanyakan kepada Ainun mengapa langit itu berwarna biru. Dengan jelas dan lugas Ainun pun menjelaskan mengapa langit itu biru, dan seketika itu bapak guru bilang bahwa mereka berdua akan berjodoh.


Sekian lama terpisah mereka pun dipertemukan kembali pada tahun 1962 di kota Bandung. Saat itu Habibie tengah berlibur dari pekerjaannya di Jerman. Bersama adik laki-lakinya Habibie diminta tolong oleh ibunya untuk mengantarkan makanan ke keluarga Ainun (temannya sewaktu di sekolah dulu). Begitu sampai dirumah Ainun, Habibie begitu terpukau dengan Ainun, seorang gadis cantik yang sekarang telah menjadi seorang Dokter dan akan mengambil spesialisasi sebagai Dokter Anak. Ainun begitu berbeda dengan ketika disekolah dulu, Habibie pun jadi teringat dengan kata-katanya yang dulu "Ainun kamu itu jelek, hitam dan lebar seperti gula jawa", tetapi Ainun yang sekarang berbeda sudah menjadi gula pasir, kata Habibie.

Sejak pertemuan itu, Habibie mulai jatuh hati kepada Ainun, begitu pun Ainun. Karena bagi Ainun, Habibie merupakan sosok yang sederhana, taat beragama dan cerdas, sehingga mereka mempunyai visi dan misi yang sama. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menikah dan setelah itu Habibie memboyong Ainun untuk tinggal di Jerman bersamanya.

Didalam pesawat menuju ke Jerman, Habibie berjanji kepada Ainun bahwa suatu hari nanti dia akan membuatkan truk terbang (pesawat) untuk Ainun. Kehidupan di Jerman tidak mudah mereka jalani, apalagi ketika awal-awal pernikahan. Mereka hanya tinggal disebuah rumah kecil. Pernah suatu waktu demi mencari uang tambahan, Habibie rela kedinginan ditengah salju dan tetap berusaha untuk pulang kerumah dengan berjalan kaki hingga sepatunya robek dan kakinya terluka. Ainun pun sempat putus asa dan berniat untuk kembali ke Indonesia.

Semenjak saat itu Habibie semakin giat bekerja. Mengerjakan proyek kereta api dan ternyata berhasil. Banyak teknokrat di Jerman mengakui bahwa Habibie adalah seorang yang jenius. Tak berselang lama Habibie teringat akan janjinya ketika dia terjatuh sewaktu sedang presentasi dan harus dilarikan kerumah sakit, dan saat itu dia di diagnosa terkena penyakit TBC. Saat dirumah sakit ia berjanji bahwa suatu hari nanti dia akan kembali ke Indonesia untuk membangun ibu pertiwi dan mewujudkan mimpinya membuat pesawat.

Untuk mewujudkan mimpinya Habibie mengirimkan sepucuk surat kepada Pemerintah Indonesia untuk menerima proposalnya membuat pesawat, tetapi surat tersebut belum bisa diterima karena sarana dan prasarana di Indonesia belum mampu untuk mewujudkan mimpi Habibie. Tak selang beberapa lama di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto yang sedang giat-giatnya membangun, Habibie mendapat panggilan dari Pemerintah RI untuk kembali ke Indonesia dan mewujudkan mimpinya untuk membuat pesawat.

Pesawat yang dibuat Habibie dan anak bangsa lainnya di beri nama Pesawat N250 Gatot Kaca. Setelah itu karier Habibie pun melonjak sangat cepat, dia dipercaya menjadi Menteri Riset dan Teknologi, Wakil Presiden RI dan pada tahun 1998 menggantikan Presiden Soeharto menjadi Presiden RI. Dalam kurun waktu itu Ainun sangat setia dan sabar mendukung karier suaminya. Malah ia menyembunyikan satu rahasia penting dalam hidupnya yaitu ia di diagnosa Kanker Ovarium, hal itu tidak dia beritahukan kepada suaminya karena Ainun tidak mau membebani pikiran suaminya.

Setelah berhenti dari jabatannya sebagai Presiden RI, Habibie dan Ainun memutuskan untuk kembali berbulan madu ke Luar Negeri. Sebelum itu mereka menyempatkan ke Hanggar Pesawat N250, disana pesawat terpakir seperti sudah tak terurus dan berdebu. Ada 1 kalimat yang keluar dari mulut Habibie yang sangat menyentuh hati saya yaitu 30 tahun saya mengerjakan pesawat ini dan selama itu pula saya kehilangan waktu bersama kamu dan anak-anak. Ketika melakukan medical check up, di sinilah Habibie mengetahui bahwa Ainun menderita Kanker Ovarium stadium 4. Saat itu juga Habibie memutuskan untuk membawa Ainun berobat ke Jerman ditemani oleh kedua anak dan sahabat Ainun. Di Jerman Ainun menjalani operasi sebanyak 9 kali dan kondisinya semakin lemah. Hingga pada akhirnya Ibu Ainun menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit di Jerman. Innalillahi wa innnailahi rodjiun... Ibu Ainun di makamkan di TMP Kalibata Jakarta.

Peristiwa itu membuat Pak Habibie sangat kehilangan, itu semua bisa terlihat jelas di puisinya berikut ini :

Sebenarnya ini bukan kematianmu, bukan itu..

Karena, aku tau bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya..
Dan kematian adalah sesuatu yang pasti..
Dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu..
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat...
Adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak ditempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi...
Kau tau sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang...
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang..
Pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada...
Aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau di sini...
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang...
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik..
Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini...
Selamat jalan..
Kau dari-Nya dan kembali pada-Nya..
Kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada...
Selamat jalan sayang...
Cahaya mataku, penyejuk jiwaku...
Selamat jalan...
Calon bidadari surgaku..

- Habibie -



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar